INTELEKTUAL MUSLIM SEJATI DI ERA WORLD CLASS UNIVERSITY
Oleh : Zidniy Sa’adah
Pengantar
Mahasiswa mana yang tidak menginginkan menempuh studi di sebuah universitas kelas dunia? Dan dosen mana yang tidak bercita-cita memiliki sebuah lingkungan akademis yang kualitasnya kelas dunia? Ya, slogan world class university atau research university dalam satu dekade ini semakin santer kita dengar. Setiap perguruan tinggi di manapun di belahan dunia ini akhirnya bercita-cita menjadi satu diantara sekian banyak world class university.
Meski demikian memperbincangkan kualitas pendidikan tinggi di negeri ini, memang selalu menarik bukan hanya saat tahun ajaran baru. Kualitas pendidikan tinggi di Indonesia memang masih tertinggal jauh dari negara Barat. Perguruan tinggi Indonesia yang masuk dalam hitungan dunia masih bisa dihitung dengan jari, itupun skala 500 besar, masih jauh dari 100 besar apalagi 10 besar. Ukuran yang sering dipakai untuk menentukan peringkat perguruan tinggi di dunia adalah survei yang dikenal dengan The Times Higher Education Supplement (THES). Setidaknya hampir 13.000 perguruan tinggi masuk dalam survei ini.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Fasli Jalal mengungkapkan, Indonesia mengalami peningkatan jumlah perguruan tinggi yang masuk 500 besar THES. Pada 2003, hanya tiga perguruan tinggi yang masuk 500 besar, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Indonesia (UI). Pada 2006, masuk lagi Universitas Diponegoro (Undip) dan 2007 bertambah lagi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Airlangga (Unair). [1]
Salah satu indikator perguruan tinggi kelas dunia adalah banyaknya peminat, bahkan dari manca negara. Karena itu, rasio kapasitas dengan peminat serta rasio mahasiswa mancanegara sering dijadikan aspek-aspek yang dinilai dalam pemeringkatan perguruan tinggi, misalnya oleh Academic Ranking of World Universities (ARWU), Times Higher Education (THES), ataupun Webometrics. Aspek penilaian lainnya adalah jumlah paper internasional yang dihasilkan, kualitas riset, penyerapan dan persepsi di dunia kerja dan kualitas sarana dan prasarana pendidikan seperti jumlah dan kualitas dosen, perpustakaan, laboratorium serta sarana informasi dan akses internet.
Para pemeringkat itu kemudian membuat ranking perguruan tinggi sedunia. Terang saja, mayoritas 100 atau 500 perguruan tinggi top di dunia berada di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang atau Australia. Sebagian kecil ada di Singapura, China, Korea, India atau Malaysia.
Sebuah Ironi
Di tengah arus kompetisi global dunia pendidikan tinggi, demi mewujudkan impian menjadikan perguruan tinggi Indonesia menuju world class university, juga karena alasan keterbatasan dana, akhirnya pemerintah kita mengambil langkah kebijakan fantastis yang beresiko. Kebijakan itu adalah otonomi kampus, yang sempat menuai kontroversi di awal dekade ini. Otonomi kampus ini diwujudkan dengan ditetapkannya empat perguruan tinggi negeri tertua di Indonesia, yaitu ITB, UI, UGM, dan IPB, yang kemudian diikuti oleh USU, UPI dan terakhir UNAIR, menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT BHMN). Keempat perguruan tinggi pertama tersebut dijadikan percontohan penerapan otonomi perguruan tinggi.
Kebijakan ini pun berimplikasi luas, biaya pendidikan tinggi menjadi mahal dan tidak lagi terjangkau oleh kebanyakan rakyat Indonesia. Padahal, untuk Indonesia yang rasio sarjana dengan jumlah penduduk baru mencapai 6%, menjadi sarjana masih menjadi cita-cita banyak orang, dan merupakan salah satu cara naik ke jenjang sosial dan ekonomi yang lebih tinggi. Akhirnya muncul fenomena di setiap tahun ajaran baru yaitu ketegangan yang berkaitan dengan pertanyaan pelik dari rakyat kebanyakan; “apakah kami mampu membiayai kuliah anak kami?” Tanya mereka.
Pertanyaan mereka perlu dijawab dan dicari akar masalahnya. Apa sebenarnya yang terjadi pada dunia pendidikan tinggi kita?
GATS Dan Komodikasi Ilmu Pengetahuan
Bentuk dan rona pendidikan tinggi di era perdagangan bebas semakin perlu kita pahami bersama karena negara-negara anggota WTO akan ditekan terus untuk menandatangani General Agreement on Trade in Services (GATS) yang mengatur liberalisasi perdagangan 12 sektor jasa, antara lain layanan kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, jasa akuntansi, pendidikan tinggi dan pendidikan selama hayat, serta jasa-jasa lainnya. Sejalan dengan pandangan ilmu ekonomi, WTO menetapkan pendidikan adalah salah satu industri sektor tersier, karena kegiatan pokoknya adalah mentransformasi orang yang tidak berpengatahuan dan orang yang tidak punya ketrampilan menjadi orang berpengatahuan dan berketrampilan. [2]
Berbicara tentang perdagangan bebas, maka salah satu prinsipnya adalah komodifikasi, yaitu proses perdagangan yang berorientasi pada profit oriented, yang sangat tergantung pada kekuatan pasar. Payung kesepakatan GATS/WTO yang sudah diratifikasi tahun 1995 di Marakesh, telah membuat pendidikan menjadi suatu komoditas, sehingga dunia pendidikan tinggi di Indonesia tengah berada dalam arus pusaran kuat komodifikasi yang sekadar melayani pasar (baca: dunia usaha). Yang lebih memprihatinkan, pemerintah begitu mudah untuk mengikuti kemauan global, tanpa melihat kemampuan lokal serta prinsip-prinsip kependidikan dalam konstitusi kita. [3]
Sejalan dengan upaya ratifikasi GATS tersebut, pemerintah kemudian mengeluarkan Perpres No 77/2007 yang kemudian diperbarui menjadi Perpres no.111/2007 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Ketua Dewan Pembina Forum Rektor Indonesia Prof Dr Sofian Effendi, MPIA sangat menyayangkan keluarnya Perpres tersebut karena telah memasukkan bidang pendidikan sebagai salah satu bidang usaha yang terbuka untuk penanaman modal asing. Dalam lampiran Perpres inilah, pada item ke-72, 73, dan 74, dimasukkan sektor pendidikan sebagai bidang usaha yang dapat dimasuki investor asing dengan penyertaan modal maksimum 49 persen. Artinya, bidang pendidikan sudah menjadi suatu bidang usaha (perdagangan jasa), yang tidak begitu berbeda dengan bidang-bidang lainnya.
Tentu saja wajar jika muncul kekhawatiran bahwa melalui pendidikan, pemodal asing bisa saja 'menjual' ideologi, pandangan hidup (worldview), dan nilai-nilai (values) yang dianutnya, serta memasarkan standar moralnya melalui pengajaran. Semua itu bisa jadi tidak sejalan dengan karakter dan nilai-nilai yang selama ini dianut bangsa ini. Transfer of values ini bisa dilakukan secara langsung atau secara samar-samar melalui lembaga-lembaga pendidikan.
Pandangan Islam
Faktor pertama dari kegagalan mendasar ideologi Kapitalisme adalah karena ia telah menjadikan ilmu pengetahuan sebagai komoditas. Akibatnya yang terjadi adalah berkembangnya pragmatisme dalam dunia pendidikan. Pragmatisme pendidikan tercermin dari tujuan pendidikan yang terlampau mengedepankan materi, jauh dari tujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas kepribadian. Kalau kita perhatikan dengan seksama, sadar atau tidak, pendidikan yang dilaksanakan dari tingkat dasar, dan lebih-lebih di tingkat perguruan tinggi, tampak sekali kecenderungannya lebih berorientasi pada sesuatu yang bersifat pragmatis. Bahkan banyak perguruan tinggi besar tidak malu-malu lagi menyatakan dirinya sebagai entrepreneurial university.
Islam sangat mengecam hal ini, karena di dalam Islam posisi ilmu pengetahuan itu sangatlah mulia. Menjadikan pendidikan atau ilmu pengetahuan sebagai komoditas, sama saja menghinakan ilmu pengetahuan itu sendiri. Imam al-Ghazali sudah mengingatkan dengan bahasa yang lugas dalam mukaddimah kitab “Bidayatul Hidayah”.
Kata beliau, jika seseorang mencari ilmu dengan maksud untuk sekedar hebat-hebatan, mencari pujian, atau untuk mengumpulkan harta benda, maka dia telah berjalan untuk menghancurkan agamanya, merusak dirinya sendiri, dan telah menjual akhirat dengan dunia. (Fa-anta saa’in ilaa hadmi diinika wa ihlaaki nafsika, wa bay’i aakhiratika bi dunyaaka).
Bagi Imam al-Ghazali, ilmu adalah sesuatu yang sangat mulia, dan sebab itu terlalu murah jika ilmu ditujukan untuk hal-hal yang sifatnya duniawi. Ilmu haruslah ditujukan untuk ibadah dan mencari hidayah Allah. Siapapun yang mencari ilmu dengan niat yang mulia seperti itu, kata beliau, maka para Malaikat akan melindungi pencari ilmu itu dengan membentangkan sayapnya; dan ikan-ikan di laut mendoakan si pencari ilmu tersebut.
Faktor kedua dari kekeliruan mendasar Kapitalisme adalah, lepas tangannya negara dalam mengelola institusi pendidikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ini tentu bertentangan dengan sabda Rasulullah Saw : ”Imam adalah ibarat pengembala dan dialah yang akan bertanggung jawab terhadap gambalaannya” (HR Muslim). Dan juga hadits yang artinya : ”Pemimpin manusia adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya” (HR Muslim).
Dalam hal ini maka adalah menjadi kewajiban negara untuk Negara wajib menyediakan sistem pendidikan berkualitas dengan fasilitas yang cukup dan dengan gaji yang cukup bagi semua orang yang bekerja pada sistem ini dengan memberikan subsidi sehingga biayanya murah bagi masyarakat. Maka Islam melarang keras negara lepas tangan, apalagi sampai mempersilakan modal asing menanamkan investasinya di dunia pendidikan kita.
KEDUDUKAN ILMU PADA DUA PERADABAN
Bayangkan suatu negeri yang tingkat buta hurufnya 95%! Mengerikan. Tetapi itulah Eropa abad 9 hingga 12 M. Bahkan Kaisar Karl dari Aachen di usia tuanya konon masih berusaha mempelajari “keterampilan yang sulit dan langka” itu! Di biara-biara hanya sedikit pendeta yang mampu membaca. Di biara St Gallen Swiss pada 1291 bahkan tak ada seorangpun dapat membaca dan menulis. Pada saat yang sama, jutaan anak-anak di desa dan kota Daulah Khilafah duduk di atas karpet dan mengeja huruf-huruf Qur’an, menulisnya, hingga menghafal surat-surat itu, lalu memulai mempelajari dasar-dasar gramatika bahasa Arab (nahwu dan shorof). Keinginan seorang muslim untuk menjadi muslim yang baik, adalah awal semua ini. Karena setiap muslim mesti mampu membaca Qur’an.
Di sinilah jurang antara Timur dan Barat. Untuk kitab suci Nasrani, hanya pendeta yang memiliki akses, membaca dan mengerti bahasa kitab suci. Namun sejak 800 M, para pengkhutbah dalam bahasa Latin sudah susah dimengerti orang kebanyakan, sampai-sampai sinode gereja memerintahkan menggunakan idiom awam, karena yang menikmati sekolah (berbahasa Latin) hanya selapis tipis rohaniwan. Kondisi inilah yang disebut banyak sejarawan sebagai masa kegelapan eropa (the dark middle ages) yang kemudian memicu revolusi ilmu pengetahuan pada era renaissance (pencerahan).
Kegelapan di Eropa kala itu, sangat kontras dengan Daulah Khilafah yang sangat berkepentingan agar rakyatnya cerdas. Pendidikan benar-benar menjadi urusannya. Anak-anak semua kelas sosial mengunjungi pendidikan dasar, dengan biaya yang terjangkau semua orang. Karena negara membayar para gurunya, orang-orang miskin mendapat tempat cuma-cuma. Di banyak tempat malah sekolah sama sekali gratis, misalnya di Spanyol. Selain 80 sekolah umum Cordoba yang didirikan al-Hakam-II pada 965 M, masih ada 27 sekolah khusus untuk anak-anak miskin. Di Kairo, al-Mansur Qalawun mendirikan sekolah untuk anak yatim, dan menganggarkan setiap hari ransum makanan yang cukup dan satu stel baju untuk musim dingin dan satu stel baju untuk musim panas. Bahkan untuk orang-orang Badui yang berpindah-pindah, dikirim guru yang juga siap berpindah-pindah mengikuti tempat tinggal muridnya.
Dari paparan sejarah di atas, bisa dilihat bahwa sejak lama memang peradaban Barat menjadikan Ilmu pengetahuan itu sebagai privilege untuk kalangan tertentu saja. Tidak jauh berbeda dengan masa lalunya, peradaban Barat modern telah menjadikan ilmu pengetahuan, khususnya di tingkat pendidikan tinggi, hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Mungkin inilah cara mereka dalam ‘menghargai’ ilmu pengetahuan. Hanya saja, bedanya dulu Gereja yang berperan ‘menghargai’ ilmu, sedangkan saat ini karena peran perdagangan bebas ilmu pengetahuan.
Sementara itu, Islam punya cara yang khas dalam menghargai ilmu. Islam menghargai ilmu, bukan dengan memberinya “bandroll” harga seperti Kapitalisme. Tapi Islam memuliakan ilmu pengetahuan sebagai saudara kembarnya iman, untuk tujuan luhur membentuk kepribadian manusia yang punya integritas mulia. Akibatnya tidak ada keistimewaan atau privilege bagi umat Islam dalam menuntut ilmu, karena setiap orang punya kewajiban yang sama dalam mencari ilmu. Yang membedakan adalah ketaqwaannya.
Allah berfirman dalam banyak ayat al Qur’an supaya kaum Muslimin memiliki ilmu pengetahuan. Allah berfirman yang artinya : “Katakanlah “Apakah sama, orangorang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?” Hanya orangorang yang berakal sajalah yang bisa mengambil pelajaran.” (QS. Az- Zumar :9). Allah juga berfirman yang artinya : “Allah mengangkat orang orang yang beriman dari pada kamu dan orang orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadalah : 11).
Rasulullah saw juga bersabda: ”Barangsiapa menempuh jalan yang padanya dia menuntut ilmu, maka Allah telah menuntunnya jalan ke surga.” (HR Muslim). ”Barangsiapa didatangi kematian dimana dia sedang menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka antara dia dan para Nabi di surga adalah satu tingkat derajat.” (HR ad Darimi dan ibn sunni dengan sanad hasan).
PERBEDAAN FALSAFAH ILMU DAN TRADISI KEILMUAN
Peradaban Barat dan Islam memiliki perbedaan yang sangat diametral dalam bangunan tradisi keilmuannya. Untuk melihatnya, kita bisa melakukan komparasi dengan pendekatan filsafat ilmu pengetahuan. Falsafah ilmu pengetahuan merupakan cara pandang manusia terhadap ilmu pengetahuan yang biasanya dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
Falsafah epistemologi (falsafah tentang pembangunan ilmu pengetahuan)
Falsafah ontologi (falsafah tentang hakekat obyek ilmu pengetahuan yaitu : manusia, alam dan kehidupan)
Falsafah aksiologi (falsafah tentang sikap manusia dalam menggunakan ilmu pengetahuan)
Ilmu yang sama dapat dipandang oleh orang yang berbeda dengan cara pandang berbeda (terutama dalam aspek ontologi dan aksiologi). Falsafah ilmu pengetahuan memang dipengaruhi oleh pandangan hidup (ideologi). Ideologi dibangun atas pemikiran dasar atau aqidah tertentu. Berikut ini disajikan perbandingan falsafah ilmu pengetahuan dari berbagai ideologi :
I. Perbandingan Falsafah Epistemologi
| Falsafah Ilmu Pengetahuan | Islam | Barat Modern | |
| Aqidah | Tauhid | Sekular-Atheis | |
| Epistemologi | Sumber (dalil) ilmu secara keseluruhan | Fakta empirik dan wahyu | Fakta empirik |
| Sumber (dalil) ilmu empirik netral | Fakta empirik | Fakta empirik | |
| Sumber (dalil) nilai bagi tsaqafah | Wahyu (Al Qur-an dan Al Hadits) | Fakta empirik | |
| Pandangan tentang keberadaan | Mengakui sesuatu yang empirik dan non empirik jika terdapat dalil | Mengakui keberadaan empirik tetapi meremehkan atau menolak keberadaan non empirik | |
| Pandangan tentang kemampuan akal | Terbatas pada fakta empirik, tidak bisa menjangkau nilai kehidupan | Dapat menjangkau yang empirik maupun nilai kehidupan manusia | |
| Pembuktian kebenaran ilmu empirik | Pengamatan empirik | Pengamatan empirik | |
| Pembuktian kebenaran nilai | Metode tasyri berdasarkan wahyu (Al Qur-an dan Al Hadits) | Pengamatan empirik | |
II. Perbandingan Falsafah Ontologi
| Falsafah Ilmu Pengetahuan | Islam | Barat | ||
| Kapitalis | Komunis | |||
| Aqidah | Tauhid | Sekular | Atheis | |
| Ontologi | Dasar pemikiran | Alam merupakan ciptaan Tuhan | Reduksi peran Tuhan | Peniadaan peran Tuhan |
| Pandangan tentang manusia, alam dan kehidupan | Ciptaan Allah. Allah mengatur dan memelihara selama alam masih ada | Ciptaan Tuhan. Tuhan tidak mengatur dan memelihara setelah penciptaan | Bukan ciptaan Tuhan. Alam ada secara azaliy | |
| Pandangan tentang hukum alam | Pemunculan dari kehendak dan ilmu Allah dalam mengatur alam | Pemunculan kehendak dan ilmu Tuhan hanya pada saat penciptaan | Hukum alam terbentuk bersama alam dengan sendirinya | |
| Pandangan tentang kejadian empirik deterministik | ditentukan Allah sebagai hukum sebab akibat (qadar Allah) | Dirancang Tuhan hanya pada masa penciptaan | Akibat hukum alam semata | |
| Pandangan tentang kejadian empirik probabilistik | ditetapkan Allah, aturannya tidak diketahui manusia (qadla Allah) | Semata-mata kejadian bersifat random | Semata-mata kejadian bersifat random | |
| Hubungan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kehendak Tuhan | Tidak pernah lepas dari qadla dan qadar Allah SWT | Memperluas kekuasaan manusia dan mereduksi kekuasaan Tuhan | Tidak ada hubungan | |
| Pandangan tentang batasan kemampuan amal manusia | Sesuai dengan kehendak dan kemampuan manusia dan tidak bisa keluar dari qadla dan qadar Allah. | Sesuai dengan kehendak dan batasan kemampuan manusia dan terikat hukum alam | Sesuai dengan kehendak dan batasan kemampuan manusia dan terikat hukum alam | |
III. Perbandingan Falsafah Aksiologi
| Falsafah Ilmu Pengetahuan | Islam | Barat Modern | ||
| Kapitalis | Komunis | |||
| Aqidah | Tauhid | Sekular | Atheis | |
| Aksiologi | Pandangan tentang pemanfaatan alam dan ilmu pengetahuan | Pemanfaatan alam dan ilmu pengetahuan terikat aturan Allah | Antroposentris, manusia menentukan nilai sesuai dengan kepentingannya | Manusia dan alam sebagai sistem, interaksi alam dan manusia melahirkan kepentingan manusia |
| Keterikatan dengan firman Tuhan dalam aplikasi ilmu pengetahuan | Terikat dengan hukum syariat Islam (firman Allah SWT) | Tidak terikat firman Tuhan walaupun mengakui eksistensi Tuhan | Tidak terikat firman Tuhan karena tidak mengakui eksistensi Tuhan | |
UNIVERSITAS KELAS DUNIA
Saat ini di abad 21, mayoritas 100 atau 500 perguruan tinggi top di dunia berada di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang atau Australia. Sebagian kecil ada di Singapura, China, Korea, India atau Malaysia.
Bagaimana seandainya pemeringkatan ini jika dilakukan seribu tahun yang lalu?
Maka universitas yang paling top di dunia saat itu tak pelak lagi berada di Gundishapur, Baghdad, Kufah, Isfahan, Cordoba, Alexandria, Cairo, Damaskus dan beberapa kota besar Islam lainnya. Perguruan tinggi di luar Daulah Islam paling-paling hanya ada di Konstantinopel yang saat itu masih menjadi ibukota Romawi Byzantium, di Kaifeng ibu kota China saat itu atau di Nalanda, India. Selain itu, termasuk di Eropa Barat, seribu tahun yang lalu belum ada perguruan tinggi. Di Amerika Serikat apa lagi. Benua itu baru ditemukan tahun 1492.
Sebenarnya di Yunani tahun 387 SM pernah didirikan Universitas oleh Plato, namun pada awal Milenium-1 universitas ini tinggal sejarah. Berikutnya adalah Universitas di Konstantinopel yang berdiri tahun 849 M, meniru universitas di Baghdad dan Cordoba. Universitas tertua di Itali adalah Universitas Bologna berdiri 1088. Universitas Paris dan Oxford berdiri abad ke-11 hingga 12, dan hingga abad-16 buku-bukunya referensinya masih diimpor dari dunia Islam. [4]
Ideologi Islam memiliki konsep sistem yang jelas dan komprehensif mencakup seluruh bidang kehidupan yang akan diterapkan secara sempurna dalam naungan Khilafah. Ideologi Islam mengatur bagaimana pengelolaan SDA yg benar yg akan menjadikan kekayaan Negara berlimpah, shg mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh ummat serta tidak akan menimbulkan kerusakan.
Dengan kekayaan yang berlimpah ini, Negara akan memberikan pendanaan berbagai riset, menyediakan fasilitas terbaik untuk kegiatan riset tsb serta memberikan penghargaan yg tinggi kpd intelektual, sehingga intelektual termotivasi untuk menghasilkan karya terbaik dan permasalahan bangsa dapat segera dituntaskan serta kemandirian dapat diwujudkan.
Berdasarkan sirah Nabi SAW dan tarikh Daulah Khilafah – sebagaimana disarikan oleh Al Baghdadi (1996) dalam buku Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, negara memberikan pelayanan pendidikan secara cuma-cuma (bebas biaya) dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) sebaik mungkin. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan. Dana pendidikan ditanggung negara yang diambil dari kas baitul maal. Sistem pendidikan bebas biaya dilakukan oleh para shahabat (ijma), termasuk pemberian gaji yang sangat memuaskan kepada para pengajar yang diambil dari baitul maal. [5]
Contohnya, Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan Khalifah Al Muntashir di kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa sebesar satu dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya. Fasilitas seperti perpustakaan, bahkan rumah sakit dan pemandian tersedia lengkap di sana. Begitu pula dengan Madrasah An-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad keenam Hijriah oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan untuk siswa, staf pengajar dan para pelayan serta ruang besar untuk ceramah. Khalifah Umar Ibnu Khattab jauh sebelum itu, memberikan gaji kepada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah masing-masing sebesar 15 dinar setiap bulan.
Tabel Perbandingan Profil Kampus
| No | INDIKATOR | ISLAM | Perguruan Tinggi Saat ini |
| 1 | Visi misi/ Orientasi | Membangun dan memajukan peradaban/ hadlarah Islam | Berkiblat pada peradaban Barat |
| 2 | Peran Negara | Dikendalikan penuh oleh Negara, negara mensetting penuh arah riset & kurikulum | Lepas tangan, dan menyerahkannya ke pasar, atas nama kemandirian/ otonomi kampus, menerima modal asing |
| 3 | Biaya Pendidikan | Bebas biaya, subsidi penuh oleh negara | Biaya pendidikan mahal, terjadi komersialisasi biaya |
| 4 | Kontribusi pada Problem Solving Umat | Berkontribusi penuh dalam menjaga kemashlahatan umat | Tidak berkorelasi pada problem bangsa, hanya untuk melayani kebutuhan dunia usaha/ kepentingan asing |
| Tri Dharma Perguruan Tinggi | | | |
| 5 | Pendidikan dan Pengajaran | - Tujuan pendidikan untuk membentuk kepribadian berintegritas Islam dan penguasaan Iptek - Memuliakan pendidik (guru+dosen) dgn cara memberi reward yg layak | - Pendidikan adalah komoditas yang dinilai dengan bandroll harga - Para Pendidik dihargai dengan selembar sertifikat dgn syarat2 akademik yang ketat |
| 6 | Pengabdian pada Masyarakat | Melebur dengan masyarakat, majelis ta’lim ada dimana-mana | Menara gading, pendidikan menjadi privilege bagi masyarakat |
| 7 | Penelitian & Pengembangan | Didrive oleh Negara, berkomitmen untuk mengembangkan riset2 untuk membangun sistem industri berbasis kepentingan Jihad dan kemashlahatan umat | Perguruan Tinggi “diberdayakan” dalam mega proyek penelitian untuk kepentingan Kapitalisme, dan industri raksasa korporasinya. |
| 8 | Tradisi Keilmuan | Ilmu saudara kembar iman, sehingga masyarakat Islam sangat mencintai ilmu pengetahuan, karena dorongan taqwa | Tradisi ilmu yang rusak, karena membuat masyarakat tidak cinta pada ilmu pengetahuan, hanya mengejar gelar dan ijazah demi kesejahteraan pribadi |
| 9 | Semangat Kompetisi | Fastabiqul Khairot dengan orientasi Izzul Islam wal Muslimin | Terjerat pada orientasi materi berbalut kompetisi global à jebakan slogan world class research university |
PROFIL INTELEKTUAL SEJATI
Mari kita melihat sedikit ilustrasi yang membandingkan antara profil intelektual bentukan Barat dengan Islam. Oxford dan Cambridge adalah simbol penting pendidikan di Inggris. Oxbridge, begitu biasa disingkat-- jadi pusat riset ilmu dan teknologi yang menyangga peradaban Inggris dari abad ke abad. Banyak peraih penghargaan Nobel beralmamater di kedua kota ini. Namanya juga sangat bergengsi.
Madinah merupakan kota pendidikan yang lebih dahsyat dari Oxford dan Cambridge. Bukan karena fasilitasnya, tetapi karena pendidikan di Madinah menghasilkan peradaban ilmu yang menyatukan iman, ilmu, amal, dan jihad.
Di Oxbridge seorang profesor bisa sangat pakar dalam ilmu fisika atau filsafat etika, pada saat yang sama dia bisa saja seorang homoseks, alcoholic, dan meremehkan gereja. Dia akan tetap dihormati karena penguasaan pengetahuannya. Di Madinah, jika seorang ilmuwan memisahkan "aqidah, akhlaq dengan ilmu yang dikuasainya, kealimannya batal. Seorang yang menjadi salah satu simpul sanad bagi sebuah hadits, jika dia ketahuan berdusta sekali saja, namanya akan tercatat sampai akhir zaman di kitab musthalahal hadits sebagai kadzab (pendusta) yang riwayatnya tidak valid. Apalagi kalau dia sampai meninggalkan shalat dan bermaksiat.
Tradisi keilmuan Islam kaya dengan contoh-contoh ulama yang sangat tinggi ilmunya dan sekaligus orang-orang yang memiliki tingkat ketaqwaan yang tinggi. Imam al-Syafii, Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Hanafi, al-Ghazali, Ibn Taymiyah, dan sebagainya adalah contoh-contoh ulama yang hingga kini menjadi teladan kaum Muslim. Dalam sistem sosial Islam, tidak ada kesempatan bagi seorang yang berilmu tinggi tetapi tidak menjalankan ilmunya. Sebab, ia akan dicap tidak adil, fasik, dan secara otomatis akan tersisih dari tata sosial Islam, karena ditolak kesaksiannya dan pemberitaannya diragukan.
Dalam sejarahnya, Oxbridge mengalami beberapa ketegangan dengan gereja, isunya beragam, tapi dasarnya sama: yaitu jika pengembangan ilmunya dianggap bertentangan dengan doktrin Kristen. Ketegangan itu baru reda setelah "gereja tahu diri" dan membatasi perannya di altar dan mimbar khotbah saja, tidak merambah ke ilmu pengetahuan. Gereja terpaksa mensekulerkan dirinya agar tidak seratus persen di buang dari masyarakat Oxbridge, bahkan lebih luas lagi dari masyarakat Barat. Inilah awal dari fenomena maraknya fenomena “spesialisasi sempit” di kalangan intelektual saat ini, yang membutakan ilmuwan dari khazanah keilmuan bidang-bidang lain.
Sebaliknya, Madinah, Damaskus, dan Baghdad bersuka cita memetik butir-butir mutiara sains yang diberikan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Berbagai cabang baru ilmu pengetahuan (new branches of knowledge) di bidang astronomi, fisika, kedokteran, biologi, matematika, ekonomi, sastra, teknologi perang, sampai filsafat dijabarkan terus tanpa henti oleh para ulama. Prof. Wan Mohd Nor menulis, bahwa tradisi keilmuan dalam Islam tidak mengenal sifat “spesialisasi buta” seperti ini. Ilmuwan-ilmuwan Islam dulu dikenal luas memiliki penguasaan di berbagai bidang. [6]
Mereka hafal Al-Qur'an, hafal ribuan hadits, beribadah, berinfaq, dan berjihad seperti para shahabat, pada saat yang sama mereka mengembangkan ilmu-ilmu baru dari semua yang diimani dan diamalkan itu. Salah satu ciri yang dapat diperhatikan pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekedar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia yang muda, tetapi dalam masa yang singkat dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara bersamaan.
Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Ia juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Ibnu Khaldun, seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah (Pendahuluan). Dia juga dikenal sebagai Bapak Ekonomi, Ibnu Khaldun sering disebut sebagai raksasa intelektual paling terkemuka di dunia. Ia bukan saja Bapak sosiologi tetapi juga Bapak ilmu Ekonomi, karena banyak teori ekonominya yang jauh mendahului Adam Smith dan Ricardo. Artinya, ia lebih dari tiga abad mendahului para pemikir Barat modern tersebut.
Tabel Perbandingan Profil Intelektual
| No | INDIKATOR | ISLAM | BARAT MODERN |
| 1 | Aqidah | Tauhid | Sekular-Atheis |
| 2 | Kepribadian | Islam | Sekuler / Komunis |
| 3 | Kecenderungan Akal | Tunduk pada wahyu, akal diberdayakan sesuai tuntunan wahyu | Memuja Akal/ Rasio |
| 4 | Metode Berpikir | Metode Rasional dan mampu menempatkan metode ilmiah pada tempatnya | Metode Ilmiah/ empirik, berfikir induktif, tidak mudah percaya kesimpulan, terpenjara pada teori-teori |
| 5 | Karakter pemikiran | Holistik, komprensiv, tapi tetap mendalam (‘amiq) | Parsial kebidangan, mendalam di satu ranah |
| 6 | Kecenderungan pilihan Identitas | Islam ideologis, bangga akan jati dirinya sbg Muslim | Universal yg mengarah ke plural, Anti yang berbau sectarian (termasuk agama) |
| 7 | Keahlian/ Penguasaan Ilmu | Fokus hanya pada satu bidang saja | Multidisiplin, menguasai berbagai disiplin ilmu |
| 8 | Kesadaran Politik | Tinggi, identik dengan seorang pejuang (muharrik+mujahid) | a-politis, terbelenggu pada bidang keilmuannya |
| 9 | Kesalehan sosial | Sangat tinggi, penjaga kemashlahatan umat dan penerapan hukum syara’ di tengah masy | Individualistic, pragmatis, terbelenggu oleh syarat2 akademik, orientasi gelar, prestise dan kesejahteraan |
PENUTUP
Ya, begitulah ciri khas dari profil intelektual muslim sejati, semakin tinggi keilmuannya semakin pula ia takut pada Rabb-nya, semakin tinggi ilmunya semakin luas penguasaan bidang ilmunya dengan tidak membatasi diri hanya pada 1 bidang saja, semakin tinggi ilmunya maka semakin tinggi pula semangat juangnya untuk melawan ketidakadilan, semakin tinggi ilmunya semakin ia peduli dengan persoalan umat tidak sibuk hanya mengejar target akademik demi kesejahteraan pribadi. Subhanallah itulah profil intelektual muslim sejati.
Karena itu, jika kembali ke “world-class-university”, sudah selayaknya kita tidak perlu ikut-ikutan pada standar yang ditetapkan Barat. Islam tentu memiliki standar sendiri, seperti apa kualitas manusia yang ingin dicetak oleh sebuah universitas dan seperti apa kriteria sebuah universitas kelas dunia itu.
Sebagai intelektual muslim sejati, tentu kita tidak cuma harus mumpuni secara intelektual, namun juga memiliki kedalaman iman, kepekaan nurani, kesalehan sosial dan keberanian dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar serta siap mati syahid dalam jihad fii sabilillah. Inilah yang disebut oleh para ulama, "Orang Barat bisa maju karena meninggalkan agamanya, sedangkan Muslimin hanya akan maju jika ia mendalami agamanya."
[2] Sofyan Effendi, Menghadapi Liberalisasi Perguruan Tinggi, Harian Seputar Indonesia, 12-13 Maret 2007
[3] Edy Suandi Hamid, Komodifikasi Pendidikan, Republika, 22 Agustus, 2007
[4] Fahmi Amhar, artikel Universitas Kelas Dunia, Media Umat, Edisi 41 Agustus 2010
[6] Adian Husaini, Pendidikan Islam Membangun Manusia Berkarakter dan Beradab, Program Studi Pendidikan Islam,
Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun, 2010
